[Review Novel] Laut Bercerita by Leila S. Chudori

9786024246945_Laut-Bercerita

Judul : Laut Bercerita

Karya : Leila S.Chudori

Penyunting : Endah Sulwesi l Christina M. Udiani

Ilustrasi Sampul dan Isi : Widiyatno

Perancang sampul : Aditya Putra

Penataletak : Landi A. Handwiko

Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Halaman : 379hlm

ISBN : 978-602-424-694-5

Rate : 5/5🌟

Sinopsis :

Jakarta, Maret 1998

Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Jakarta, Juni 1998

Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang Ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Jakarta, 2000

Asmara Jati, adik Biru Laut, bersama Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makam anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.

***

Matilah engkau mati

Kau akan lahir berkali-kali…”

***

Kekejaman rezim Seoharto yang langgeng saat itu hanya pernah saya baca di dalam buku-buku sejarah dan diceritakan oleh guru-guru saya, karena pada saat itu, saya bahkan baru lahir. Ya, Mei 1998, adalah puncak dari seluruh kerusuhan yang terjadi. Tahun itu adalah tahun klimaks atau titik puncak dari perjuangan panjang para aktivis jauh sebelum tahun 1998. Tentu saja, menggulingkan rezim yang sudah lama berkuasa bukanlah perkara yang mudah. Apalagi, pemerintah pada saat itu tidak akan segan untuk menculik, menyiksa, dan menghilangkan ‘para lalat’ yang berani untuk mengganggu kegiatan mereka.

Kekejaman itulah yang tergambar dalam buku bersampul cantik ini. Tapi tidak secantik sampulnya, isi di dalamnya justru suram dan begitu banyak kepedihan yang tersembunyi.

Ada dua bagian dalam buku ini.

Di bagian pertama, kau akan diperkenalkan dengan Biru Laut, seorang mahasiswa jurusan Sastra Inggris di salah satu universitas di Yogyakarta yang mempunyai niat tulus untuk menghancurkan rezim otoriter yang berkuasa saat itu. Bersama dengan kawan-kawannya yang tergabung dalam sebuah organisasi mahasiswa bernama Wirasena dan Winatra, mereka seringkali mendiskusikan mengenai buku-buku yang dianggap terlarang pada saat itu (karena dianggap sebagai alat untuk memberontak pemerintahan) seperti buku-buku karya Prameodya Ananta Toer, dan juga puisi-puisi karangan Rendra. Di organisasi itu pula, mereka sering mendiskusikan keresahan mereka juga mengenai persamaan persoalan yang terjadi di Indonesia dan juga di luar Indonesia, dan mencari solusi untuk menghentikannya.

Bersama dengan kawan-kawannya, Sunu, Alex, Daniel, Kinan, Naratama, Dana, Julius, dan Sang Penyair juga kawan-kawan seperjuangan lainnya, mereka melancarkan berbagai aksi protes pada pemerintah dan berbagai unjuk rasa yang menuntut hak-hak rakyat kecil yang diambil paksa. Hal ini membuat nyawa mereka sendiri terancam, karena pada masa itu, pemerintah tidak akan segan-segan menculik dan menyiksa mereka dengan kejam. Tapi, hal itu tidak membuat semangat juang Laut dan yang lainnya padam. Mereka justru terus memikirkan cara untuk melemparkan aksi unjuk rasa yang menekan pemerintah yang lain.

Pemerintah yang jengkel dengan aksi mereka memutuskan untuk menetapkan Biru Laut juga kawan-kawannya yang tergabung dalam Winatra sebagai buron pemerintah. Hal itu membuat Biru Laut dan kawan-kawannya harus tinggal berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka juga harus meminimalisir sedikit mungkin untuk menghubungi keluarga mereka, karena bukan hanya nyawa mereka yang terancam disini, tapi juga nyawa keluarga mereka.

***

“Yang paling sulit adalah menghadapi ketidakpastian. Kami tidak merasa pasti dengan lokasi kami; kami tak merasa pasti apakah kami akan bisa bertemu dengan orangtua, kawan, dan keluarga kami, juga matahari; kami tak pasti apakah kami akan dilepas atau dibunuh; dan kami tidak tahu secara pasti apa yang sebetulnya mereka inginkan selain meneror dan membuat jiwa kami hancur.” Hal.259

***

Lewat kisah Laut, kita akan dibawa melihat betapa kejamnya rezim pemerintah pada saat itu. Betapa dengan mudahnya mereka membungkam dan menghilangkan secara paksa jiwa orang-orang yang berani untuk mengkritisi mereka. Betapa kejinya penyiksaan yang mereka lakukan pada jiwa-jiwa berhati besar dengan niat mulia untuk membebaskan rakyat dari kediktatoran pemerintah. Dan juga, lewat kisah Laut, kita akan diajak mengenali sakitnya pengkhianatan. Bagiaman pengkhianat sebenarnya bisa siapa saja, bahkan orang yang tak pernah kita sangka sekali pun.

***

Asmara adikku,

Saat ini aku berada di perut laut, menunggu cahaya datang.

Ini sebuah kematian yang tidak sederhana. Terlalu banyak kegelapan. Terlalu penuh dengan kesedihan.

(Hal.364)

***

Jika dibagian pertama kita akan diperlihatkan tentang perjuangan Biru Laut dan kawan-kawannya, maka dibagian kedua kita akan kembali diperlihatkan tentang perjuangan, namun bukan Biru Laut dan kawan-kawannya yang berjuang, melainkan Asmara Jati, adik Biru Laut dan seluruh keluarga mereka-mereka yang menghilang dan tidak pernah kembali.

Membaca bagian Asmara sebenarnya lebih membuat saya merasa emosional, karena selain ini adalah kisah keluarga, para orangtua, kekasih dan sanak saudara mereka yang menghilang, bagian ini juga seakan memperlihatkan bagaimana mereka mencoba kuat. Bagaimana keluarga-keluarga itu hidup dalam ketidaktahuan yang menyakitkan.

Sosok Asmara disini digambarkan seorang perempuan yang realistis. Jika kedua orangtua mereka masih hidup dalam kepompong, dimana di dalamnya masih hidup sosok Biru Laut, kakaknya yang tidak pernah kembali, maka Asmara mencoba untuk realistis dan berpikir bahwa Laut benar-benar sudah mati. Tapi, jauh di lubuk hatinya, Asmara juga kehilangan. Dia kehilangan kakaknya, yang selalu melindungi dan menjahilinya. Dia kehilangan salah satu lelaki hebat dalam hidupnya.

Bersama dengan Tim Komisi Orang Hilang, Asmara juga seluruh keluarga korban mencoba untuk mencari kejelasan mengenai kondisi sanak-saudara mereka. Mencoba mencari kebenaran tentang keberadaan mereka. Jika memang sudah mati, dimanakah makam mereka.

***

“Dan yang paling berat bagi semua orangtua dan keluarga aktivis yang hilang adalah: insomnia dan ketidakpastian. Kedua orangtuaku tak pernah lagi tidur dan sukar makan karena selalu menanti “Mas Laut muncul di depan pintu dan akan lebih enak makan bersama”. –Hal.245

***

Jujur, ini adalah novel karya Leila S. Chudori yang sudah saya baca (iya, saya memang selalu ketinggalan T.T). Tapi novel ini sukses membuat saya ingin membaca karyanya yang lain, terutama yang berjudul Pulang, yang katanya sangat bagus dan seru.

Tulisan beliau di novel ini benar-benar hebat. Narasi yang digunakan mampu untuk membuat pembaca masuk dan merasakan langsung kepedihan, rasa sakit, juga trauma yang di alami oleh si tokoh. Kita juga akan merasa marah, kesal, dan frustasi setiap kali para orang-orang kejam itu memperlakukan mereka deng an keji.

Pendeskripsikan tempat juga karakter yang kuat menjadi nilai tambah untuk novel ini. Saya suka bagaimana beliau menuliskan dan mendeskripsikan suasana bukan hanya dengan indera penglihatan, tapi juga indera penciuman atau pendengaran. Pembaca seakan diajak menerka-nerka bersama dengan para tokoh mengenai dimana mereka saat itu.

Penggambaran karakter juga kuat, terutama pada tokoh-tokoh wanita seperti Kinan, Anjani, dan juga Asmara. Lewat mereka, kita akan melihat bahwa wanita tidak selalu harus menjadi kaum yang ditindas atau kaum yang ada di bawah laki-laki. Ketiga wanita ini sama-sama memiliki pemikiran yang kritis, tapi mereka tetap mampu untuk bersikap realistis.

***

“Aku ingin sekali perempuan tak selalu menjadi korban, menjadi subjek yang ditekan, yang menjadi damsel in distress….” Hal.104

***

Buku ini akan menuntunmu untuk membaca kisah mereka yang dihilangkan secara paksa. Bagaimana perjuangan mereka mencari keadilan untuk rakyat Indonesia. Bagaimana mereka disiksa dengan begitu keji tanpa belas kasihan sama sekali. Juga, buku ini akan mengantarkanmu pada kisah keluarga mereka. Orang-orang yang ditinggalkan sanak saudaranya, yang terus menunggu tanpa kepastian. Terus hidup dengan ketidakjelasaan apakah anggota keluarga mereka masih hidup, atau sudah mati.

Meski ini hanyalah fiksi, tapi kenyataan bahwa pernah terjadi kekejaman pada tahun 1998 adalah hal yang pasti. Kenyataan bahwa ada 13 orang aktivis yang hilang dan tidak ditemukan dan diketahui keberadaan hingga saat ini sungguh membuat saya merasa sakit. Dimana pun mereka, saya berdoa semoga mereka selalu damai dan bahagia. Semoga semangat menolak apatis dan kritis mereka kembali lahir dalam darah-darah juang pemuda pemudi Indonesia yang lain.

Over all, aku kasih rate 5/5🌟 , because it’s a very recommended one. Terimakasih untuk penulis, Leila S. Chudori yang berhasil membuat saya menangis semalaman membaca kisah Laut dan kawan-kawannya, dan sukses selalu untuk beliau.

Sekian review singat (yang cukup panjang ini) dari saya. See you in another review!

Regards,

lunarialiva

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s