[Review Novel] Tied The Knot by Alma Aridatha

Judul : Tied The Knot

Penulis : Alma Aridatha

Editor : Letitia Widjaja

Desain sampul : Inke Alverine

Penerbit : Romancious

ISBN: 978-602-9622-65-6

Cetakan kedua, 2017

424 halaman

Rate : 3,5/5🌟

Sinopsis :

Tiga hal yang paling penting bagi Rian dalam hidupnya; Mama, arsitektur, dan tidur panjang pada hari sabtu. Apa pun akan dilakukannya demi ketiga hal itu. Sama sepertu ketika Mama menjodohkannya dengan seorang gadis yang tidak terlalu dikenalnya. Ingin menolak, tapi tak sanggup melakukannya. Kebebasannya seketika terasa tidak sebanding dengan kebahagiaan mamanya.

Bagi Dee, Tante Ratu bukan hanya seorang atasan yang memberinya gaji. Beliau juga menggantikan sosok ibu yang nyaris tidak dikenalnya. Tapi, saat Tante Ratu memintanya menikah dengan putra tunggak beliau yang sudah memiliki reputasi negatif di kalangan perempuan, die merasa berat untuk menerima. Setidaknya, sampai dia melihat bagaimana lelaki itu memperlakukan ibunya.

Kata orang, laki-laki yang menghormati ibunya, pasti akan menghargai pasangannya.

Tapi, apakah rasa saling menghargai saja cukup untuk menjadi awal dari sebuah pernikahan?

“Pernikahan yang bahagia bukan cuma campur tangan takdir, Yan. Tapi juga hasil kerja keras kedua pihak.” (Hal. 94)

 

Pernikahan merupakan hal yang penting dan sakral bagi semua orang. Tapi, bagaimana kalau kalian justru harus menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak kalian kenal?

Yap, inilah yang terjadi pada Rian. Saat mamanya meminta dia menikah dengan Dee (Diana Andira Sofyan), salah satu pegawai di butik mamanya, Rian harus menerimanya dengan lapang dada, karena menurutnya kebahagian mamanya adalah nomor satu (meskipun dia harus merelakan kebebasan dan kebahagiannya sendiri).

Novel ini akan membuat kita menyelami dunia Dee dan Rian. Dee yang sederhana, kalem, penurut, mandiri dan gadis baik-baik. Rian yang nakal, brengsek, tapi family man dan bertanggungjawab, juga humoris dan sedikit konyol. Meskipun bertolak belakang, karakter keduanya justru mengimbangi satu sama lain, dan tidak mencoba mendominasi salah satu pihak.

Sebenarnya, tema yang diangkat Kak Alma di novel ini termasuk tema yang mainstream. Perjodohan. Tapi, bedanya, di novel ini nggak ada tokoh yang menolak perjodohan tersebut. Malah, mereka berdua benar-benar pasrah dan menerimanya, meskipun mereka tidak saling mencintai satu sama lain. Itu membuat novel ini berbeda dengan novel dengan tema yang sama pada umumnya. Gaya menulis kak Alma yang ringan juga sukses membuat pembaca menyelesaikan ceritanya tanpa terpaksa sedikit pun.

Fyi, aku adalah tipikal pembaca yang senang membaca novel-novel yang ringan seperti ini, yang tidak memiliki konflik yang terlalu complicated. Tapi buku ini benar benar nggak rumit, malah terasa flat di beberapa bagian.

Maksudku, konflik yang ada di buku ini tidak terasa seperti konflik. Konfliknya hanya berkisar tentang internal rumah tangga dan keseharian Rian dan Dee, yang justru menurutku terjadi hanya karena ego masing-masing tokoh (seperti saat Rian merasa marah Dee membayar stroller untuk anak mereka dengan uang Dee, bukan uang Rian). Penyelesaiannya pun terkesan mudah, dan seolah menggambarkan bahwa kehidupan pernikahan yah memang seindah dan segampang itu. (Percayalah, setelah membaca novel ini aku jadi pengen nikah juga karena liat kehidupan pernikahan Dee dan Rian yang indah T^T)

“Laki-laki yang hormat sama ibunya, pasti juga bisa menghargai istrinya.”

Penggambaran tokoh Rian juga agak bertolak belakang sih. Ini hanya pendapatku saja, tapi, apa iya seorang laki-laki yang katanya family man dan nenghormati ibunya akan berperilaku brengsek dengan suka menebar benih dimana-mana alias had a sex with stranger or one night stand? Dan tokoh Rian disini terlihat tidak menyesali perbuatannya, dan justru malah terkesan merasa bangga bahwa dia pernah senakal itu di waktu yang tepat yaitu sebelum dia menikah.

Hal ini membuat aku meragukan sosok dia yang menghormati ibunya. Karena menurutku, laki-laki yang menghormati ibunya pasti juga akan menghormati perempuan lain dan tau bagaimana cara menghormati mereka (meskipun Rian selalu menegaskan bahwa dia tidak pernah melakukan itu dengan wanita yang terpaksa, alias sama sama mau).

But, selain kekurangan diatas, novel ini sukses untuk membuat aku membaca ceritanya sampai habis, tanpa merasa terpaksa.

Cinta datang karena terbiasa.

Itulah yang ditekankan atau yang aku bisa garis bawahi dari novel ini. Disini, kita bisa mendapat pelajaran bahwa konflik di dalam rumah tangga tidak akan selesai jika kedua belah pihak tidak mengkomunikasikannya satu sama lain, alias komunikasi merupakan hal yang penting dalam rumah tangga.

Meskipun terdapat adegan yang lumayan rate dewasa, tapi itu semua tidak terkesan berlebihan. Celotehan konyol Rian sukses membuatku tertawa dan senyum-senyum. Adegan romantis Rian dan Dee juga nggak berlebihan, justru terkesan manis banget.

Aku kasih rate 3,5/5🌟 untuk novel ini.

Buat kalian yang senang dengan cerita yang ringan dan dengan konflik yang nggak begitu pelik, kalian pasti suka dengan cerita manis ini.

Oke, segitu dulu review dari aku. See you in the next review😊

By the way, sukses terus buat ka Alma. Aku tunggu Untied versi cetaknya  ya ka, hehe.

Regards,

Lunarialiva.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s