Ulang Tahun

p

“Aku ingin menjadi yang terakhir mengucapkannya padamu.

.

.

Selamat ulang tahun.”

***

Hari ini datang setiap satu tahun sekali.

Kau selalu menunggunya datang. Mengharapkannya hadir dengan cepat menghampirimu. Mengharapkan banyak do’a dan ucapan yang orang lain ucapkan untukmu. Mengharapkan kejutan dan juga semua hadiah-hadiah kecil itu.

Kau menunggunya.

Begitu pula denganku.

Aku juga selalu menunggunya. Menunggu hari itu untuk datang lebih cepat. Menunggu dengan tidak sabar sambil membayangkan bagaimana cerianya wajahmu saat menyambutnya. Aku bahkan lebih antusias menunggu harimu dibanding hariku sendiri. Hal yang sebenarnya cukup membuatku mengerutkan kening. Ternyata, tanpa aku sadari, kebahagianmu jauh lebih berarti dibanding bahagiaku.

Lalu, dia datang. Harimu datang. Dia menghampirimu lagi, hal yang sangat aku syukuri, dan kau juga pasti mensyukurinya.

Ini bahkan baru jam 12 malam, dan kau sudah membagikan moment bahagiamu. Kau update di hampir semua sosial media milikmu. Seakan ingin memberitahu, ‘Hey! Lihatlah. Aku sedang berulangtahun sekarang. Kalian tidak ingin mengucapkan selamat?’

Ya. Begitulah kira-kira.

Sementara kau tengah membagikan moment itu, aku hanya bisa tersenyum. Menatap wajahmu dalam bingkai foto yang sengaja aku taruh di atas nakas kecil di samping tempat tidur. Agar kalau aku tiba-tiba merindukanmu, aku langsung bisa memelukmu—atau, memeluk fotomu, maksudnya. Aku belum mau mengucapkannya. Atau aku tidak akan mengucapkannya.

Lalu siang itu, aku melihat wajahmu cemberut. Kau terus-terusan mendiamiku. Aku bahkan sudah memutar otakku untuk mengajakmu bicara, tapi kau tidak pernah menanggapinya barang sekali saja. Kau benar-benar kesal, sepertinya. Sampai habis akalku. Tidak tahu lagi bagaimana cara mengajakmu keluar dari zona diammu.

Kalau boleh jujur, kau lebih menyeramkan saat berada dalam zona itu. Aku bahkan lebih memilih kau membentakku, setidaknya kau menumpahkan amarahmu, lalu kita bisa kembali berbaikan. Tapi dalam zona diammu, itu adalah ranah yang aku sendiri tidak bisa mengendalikannya.

Seharian itu kau hanya diam. Diam padaku, tentu saja, karena saat orang lain menyapamu kau akan tersenyum. Senyum yang selalu berhasil mencuri perhatianku, bahkan sejak kita pertama bertemu.

Dalam hati aku terkikik. Meminta maaf karena sudah membuatku kesal. Aku bukannya tidak tahu, tapi aku hanya berpura-pura tidak tahu.

Lalu, aku mengajakmu makan di suatu tempat. Bukan restoran mahal, hanya tempat makan pinggir jalan, tempat biasa kita makan. Karena kau selalu melarangku untuk menghambur-hamburkan uang dengan mengajakmu makan di restoran mahal. Kau bilang aku harus menghemat uangku.

Aku sudah memesan makanan untuk kita berdua. Kau masih tetap cemberut meski sekarang, sesekali kau sudah mulai mau menanggapi perkataanku.

Lalu, aku bilang izin ke toilet sebentar dan kau hanya menganggukkan kepala.

Saat itulah, aku mengeluarkan semuanya. Bunga mawar berwarna merah muda kesukaanmu dan sebuah boneka beruang kecil berwarna putih. Aku melihat jam tanganku. Benda itu menunjukkan pukul 10 malam, aku rasa sudah cukup.

Aku menghampirimu, dengan langkah-langkah kecil agar kau tak menyadarinya. Lalu aku menepuk pundakmu pelan. Dan saat kau menengok ke belakang, kau terkejut. Sangat terkejut sampai aku bisa melihat matamu mulai berkaca-kaca.

“Jangan nangis,” pintaku sambil tersenyum.

Kamu menggeleng. Tidak percaya dengan benda yang ku bawa. Kau menutup mulut dengan kedua tanganmu, sambil menatap aku dan kedua benda itu bergantian. “Kamu jahat,” katamu.

Aku kembali tersenyum. Aku lalu membawamu berdiri dan memelukmu. Mengusap pundakmu karena kau mulai terisak. Untung saja aku sudah menyewa tempat ini tanpa sepengetahuanmu, jadi yang melihat kita hanyalah sepasang suami istri yang memang memiliki tempat makan ini. Biarlah, sekali ini saja aku tidak menghemat. Karena hari ini adalah pngecualian.

“Selamat ulangtahun, sayang.”

“Kamu telat!” bisikmu kesal.

“Maaf. Aku memang sengaja melakukannya.”

Kamu mendongakkan kepalamu, menatapku. “Kenapa?”

“Karena aku ingin menjadi yang terakhir mengucapkannya padamu.” Aku menatapmu. Mengusap air matamu. Lalu, aku kecup keningmu. “Selamat ulangtahun, sayang.”

fin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s