Ingin Berhenti Mengejar, dan Membiarkanmu Pergi Menjauh.

tumblr_nxv40ila201sho26po1_1280

Cinta memang tidak bisa memilih. Ia tidak bisa diprediksi. Cinta hadir dengan begitu apik. Dia merembes masuk diam-diam, dan tahu-tahu dia sudah tumbuh begitu dalam. Seperti apa yang aku rasakan sekarang.

Mencintai, ternyata bukanlah perkara yang mudah seperti yang ku bayangkan sebelumnya. Dulu, aku berpikir bahwa ketika seseorang mulai mencintai, ia pasti selalu akan bersama dengan orang yang dicintainya. Seperti buku dongeng yang ku baca. Seperti kisah pangeran tampan dan si puteri cantik. Itu artinya, cintanya telah terbalas oleh yang dicintai.

Namun, kenapa sepertinya ini tidak terjadi padaku?

Aku telah terlalu lama mencintaimu. Mendambakan kehadiranmu seakan sudah menjadi rutinistasku, sama seperti aku makan tiga kali sehari. Kau selalu enggan pergi. Kau melekat dalam diriku, dan tidak mau lepas. Kau bahkan ikut hadir dalam setiap mimpi-mimpiku, padahal, aku tidak pernah meminta agar kau hadir disana. Tapi ternyata, kau tetap ada. Kau seakan menujukkan bahwa dirimu sudah benar-benar mengikatku dalam pesonamu. Begitu erat. Sehingga bahkan aku nyaris sekarat.

Ternyata cinta, cukup lucu, ya? Seperti, bagaimana bisa ada orang yang tetap bertahan meski berbalas luka? Seperti, bagaimana bisa ada yang rela berjuang meski seseorang yang diperjuangkan enggan bertahan? Seperti, bagaimana bisa ada seseorang yang rela kesakitan, merintih, dan menjerit, saat seseorang yang menjadi alasan untuk semua hal itu justru tertawa? Bahagia dengan dunianya. Bahagia dengan teman-temannya. Bahagia dengan lingkungannya. Tanpa menyadari, bahkan kau hampir saja mati.

Aku memang tengah mencintai, namun bisakah aku menyebut bahwa aku tengah terluka? Memang tidak berdarah. Memang tidak terlihat. Tapi aku bisa merasakannya. Aku sekarat. Cinta itu tidak membuatku bahagia sama sekali. Aku bahkan tidak tersenyum, apalagi tertawa. Yang ku lakukan hanya menangis di sudut kamar, menyesali mengapa harus dia yang aku cintai.

Cinta memang tidak bisa memilih. Ia tidak bisa diprediksi. Cinta hadir dengan begitu apik. Dia merembes masuk diam-diam, dan tahu-tahu dia sudah tumbuh begitu dalam. Seperti apa yang aku rasakan sekarang.

Sebenarnya aku lelah. Aku bahkan hampir mati. Ingin sekali rasanya aku melepas. Belajar untuk melupakanmu yang mungkin memang tidak ditakdirkan untuk bersamaku. Aku ingin sekali berhenti mengejar, dan membiarkanmu lari menjauh, hingga mataku bahkan tak bisa menemukan sosokmu. Aku ingin melupakan, lalu mencoba bahagia. Bahagia dengan diriku sendiri. Bahagia dengan duniaku, tanpa ada sosok kamu.

Namun sepertinya, kamu enggan untuk itu.

Sosokmu masih saja melekat jelas dalam setiap sel otakku. Semua ingatan tentang kau tidak pernah pergi dari pikiranku. Ia terus hadir, meski sudah terlalu banyak waktu yang ku habiskan untuk berusaha. Berusaha melupakan. Namun, setelah berkali-kali mencoba, aku tetap saja gagal. Dan tetap bertahan. Seperti orang bodoh yang sudah kebal dimarahi karena tidak pernah mengerti.

Aku seakan lupa satu hal penting yang harusnya selalu aku ingat.

Aku boleh bertahan….

.

.

.

Asal aku mau mati perlahan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s